Kadin: Pengesahan UU Ciptaker Saat Pandemik Tepat Waktu

Kadin: Pengesahan UU Ciptaker Saat Pandemik Tepat Waktu

Kadin: Pengesahan UU Ciptaker Saat Pandemik Tepat Waktu

Kadin: Pengesahan UU Ciptaker Saat Pandemik Tepat Waktu – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Rosan Roeslani mengatakan, pengesahan Undang-Unang Cipta Kerja (UU Ciptaker) pada tengah pandemik COVID-19 adalah momen yang tepat. Kata ia, omnibus law adalah bagian dari reformasi struktur ekonomi yang fundamental.

“Keberadaan omnibu law saat COVID-19 jadi penting untuk kita berkompetisi dengan negara-negara tetangga dalam meningkatkan investasi yang ujungnya adalah lapangan kerja,” kata Rosan dalam webinar yang terselenggarakan Indikator Politik Indonesia, Minggu (18/10/2020).

1. RUU Cipta Kerja sudah membahas sejak lama

Rosan membantah pernyataan yang mengatakan RUU Cipta Kerja membahas secara serampangan dan terburu-buru. Omnibus law sudah terbahas sejak Februari awal tahun dan baru tersahkan jelang akhir 2020.

Menurut ia, fakta itu tertutup hoaks yang bertebaran. Sehingga, media dan masyarakat cenderung salah memahami itikad baik dalam RUU tersebut.

Melansikan dari http://canoecreekgolf.com/ .“Tantangan terbesar adalah sosialisasi, karena banyak hoaks dan berita misleading. Lawan dari hoaks adalah edukasi yang cepat, masif, dan tepat sasaran,” ungkap Rosan.

2. Negara-negara lain sudah melakukan reformasi ekonomi

Lebih lanjut, Rosan menjelaskan, bila omnibus law merupakan langkah awal reformasi ekonomi Indonesia, yang ternilai terlambat jika terbanding negara lain. Sebut saja Malaysia dan Vietnam yang sudah mereformasi struktur ekonominya sejak 2010 serta Thailand sejak 2015.

Apabila Indonesia tidak segera melakukan reformasi ekonomi, maka begitu pandemik usai, tidak akan ada investasi yang masuk ke Indonesia. Investasi cenderung memilih negara seperti Thailand, Vietnam, atau Malaysia yang sudah melakukan reformasi ekonomi.

“Artinya kita bersaing dengan negara-negara tetangga. Kalau kita tidak melakukan reformasi struktural, kita akan ketinggalan,” kata ia.

3. Negara-negara besar sedang berlomba keluar dari Tiongkok

Momentum lainnya, papar Rosan, pandemik COVID-19 menyebabkan negara-negara besar berupaya menarik perusahaannya dari Tiongkok, untuk menghindari global value chain.

“Amerika Serikat sudah ada 1.000 perusahaan yang akan keluar dari Tiongkok. Jepang malah memberikan insentif sampai kurang lebih ekuivalen 2 triliun kepada perusahaan untuk keluar dari Tiongkok,” jelas Rosan.

Adapun lokasi alternatifnya adalah negara-negara pada Asia Tenggara. “Itu kenapa omnibus law saat COVID-19 jadi penting,” lanjut ia.

4. Kadin tegaskan mendukung omnibus law

erakhir, Rosan memastikan bahwa Kadin mendukung penuh RUU Cipta Kerja.

“Kami pada Kadin selalu menarik keputusan, apabila kebijakan pemerintah ujungnya adalah penciptaan lapangan kerja, maka wajib harus dukung dan kita full support,” tutup ia.

Comments are closed.