Harga CPO Turun Penerimaan Negara Menguap

Harga CPO Turun Penerimaan Negara Menguap

Harga CPO Turun Penerimaan Negara Menguap Rp 6.2 T

Harga CPO Turun Penerimaan Negara Menguap – Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) melemah signifikan siang hari ini Kamis setelah dikabarkan eskpor minyak sawit pada periode 1-25 Juni lebih rendah dari perkiraan.

Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) anjlok karena merosotnya harga sawit pada 2019. Pasalnya dana dari BLU menurun signifikan.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan sejak 2015-2019 secara akumulatif mengalami tren pertumbuhan rata-rata 16%.

Kebijakan BLU pada tahun depan, kata Febrio pemerintah akan terus meningkatkan kualitas pelayanan yang affordable, sustainable, dan available. Tahun depan, Kemenkeu juga akan meningkatkan pemanfaatan idle fund untuk meningkatkan PNBP dari BLU.

“Melalui investasi kas BLU untuk meningkatkan kualitas layanan,” jelas Febrio.

Selain pendapatan BLU yang meningkat, ada juga peningkatan pada jumlah BLU yang tercatat di tahun 2017. Tercatat ada 203, dan tahun 2018 sebesar 217 dan 2019 meningkat jadi 236.

Harga minyak mentah jatuh nyaris 6%

Kenaikan ekspor minyak nabati dari Negeri Jiran dipicu oleh membaiknya permintaan seiring dengan relaksasi lockdown, di berbagai negara destinasi ekspor seperti Uni Eropa, China dan India.

Selain itu anjloknya harga minyak juga turut membebani harga CPO. Harga minyak mentah jatuh nyaris 6% kemarin karena stok minyak mentah AS yang naik dan lonjakan kasus baru yang terjadi di Amerika, Jerman dan negara-negara lain.

Akibat jumlah kasus baru infeksi Covid-19 meningkat, gubernur New York, New Jersey dan Connecticut meminta pengunjung wilayah tersebut yang berasal dari sembilan negara bagian lain untuk di karantina selama 14 hari.

Beralih ke Jerman, Negeri Panser melaporkan angka reproduksi virus (Rt) Jerman naik menjadi 2,76. Artinya satu orang pasien Covid-19 dapat menularkan ke setidaknya 3 orang lainnya.

Kekhawatiran akan gelombang kedua wabah membuat investor lebih memilih menghindari risiko. Mengutip Reuters, trader mengatakan naiknya kasus Covid-19, turunnya harga saham dan minyak mentah turut memberikan prospek negatif terhadap permintaan.

Di sisi lain selisih (spread) antara minyak sawit dengan minyak nabati lainnya yaitu minyak kedelai juga semakin rendah. Spread yang sempit juga menjadi faktor lain yang mampu menekan permintaan minyak sawit.

“Spread antara minyak kedelai dengan minyak sawit sangatlah tipis di kisaran 30 – 40 ringgit (US$ 16,17) ketika seharusnya berada di rentang 100 – 150 ringgit (US$ 35,08). Hal ini akan memicu terjadinya tekanan jual” kata trader yang berbasis di Kuala Lumpur melansir Reuters.

Faktor musiman juga jadi faktor yang tengah disorot di pasar. Memasuki kuartal kedua biasanya produksi komoditas ini meningkat. Produksi bulan Juni diperkirakan naik 3% -5%. Ketika produksi naik dan data resmi ekspor tak sesuai ekspektasi atau lebih buruk maka harga CPO bisa semakin tertekan.

Sebagai informasi, dalam APBN Kita periode Mei, realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) lainnya, tercatat sebesar Rp 44,10 triliun atau mengalami pertumbuhan 4,3% dibandingkan periode sebelumnya.

Kemudian, apabila dibandingkan periode yang sama tahu sebelumnya, pendapatan dari BLU mengalami pertumbuhan sebesar 6,29% dengan realisasi sebesar Rp 19,51 triliun dibandingkan periode yang sama tahun 2019 sebesar Rp 18,36 triliun.

Adapun dalam laporan APBN Kita, disebutkan bahwa kenaikan kinerja pendapatan BLU disumbang dari pendapatan dana perkebunan kelapa sawit, peningkatan jasa layanan kesehatan pada rumah sakit dan pendapatan pengelolaan dana pengembangan pendidikan nasional.

Ekspor minyak sawit dari Negeri Jiran pada periode 1-25 Juni diperkirakan naik antara 35,5% – 37,2% dibanding periode yang sama bulan Mei lalu menurut perusahaan surveyor kargo. Angka ini jauh lebih rendah dibanding periode 1-20 Juni yang kenaikannya mencapai 50% – 57%.

Febrio merinci, BLU pada 2015 mencapai Rp 35,3 triliun, 2016 sebesar Rp 41,9 triliun, meningkat menjadi Rp 47,3 triliun dan pada 2018 menjadi Rp 55,1 triliun.

Harga CPO untuk kontrak pengiriman September 2020 di Bursa Malaysia Derivatif mengalami penurunan sebesar 49 ringgit atau 2,01% ke RM 2.387/ton.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *