Tipe Impostor Syndrome

Tipe Impostor Syndrome

Tipe Impostor Syndrome

Tipe Impostor Syndrome, – Apa yang sama-sama dimiliki oleh Maya Angelou, Albert Einstein, Meryl Streep dan Emma Watson selain kesuksesan mereka? Yap, terlepas dari pencapaian mereka yang jelas dan diakui secara luas itu, mereka juga mengidap Impostor Syndrome, atau sindrom penipu.

Impostor sendiri, menurut kamus Merriam-Webster, adalah seseorang yang memiliki identitas atau gelar palsu dengan tujuan menipu. Nah, cukup berbeda dengan impostor syndrome yang akan kita bahas di sini.

Walaupun sudah meraih banyak hal di hidupnya, sebagian orang justru merasa dirinya masih kurang baik. Mereka selalu meragukan kemampuan dirinya dan bahkan merasa takut orang mengekspos dirinya sebagai penipu.

Dirangkum laman IDN Poker 88 Asia, Inilah yang disebut dengan impostor syndrome atau sindrom penyemu. Gangguan mental ini ditemukan pada tahun 1978. Sebuah penelitian mengatakan bahwa setidaknya 70 persen orang pernah mengalami keadaan ini di hidup mereka.

Sindrom ini berasal dari kurangnya rasa percaya diri

Rasa ragu akan diri sendiri dalam seseorang bisa mempengaruhi bagaimana ia menilai segala pencapaian, kompetensi, dan kemampuannya. Saat keraguan bertambah besar, akan sulit untuk mengembangkan image diri yang realistis.

Hal ini akan mendorong seseorang untuk mengalami impostor syndrome. Menurut ahli bernama Valerie Young, ada lima tipe pengidap impostor syndrome, berikut ini penjelasan menurut risetnya!

1. The expert

Tipe ini mengukur kompetensinya berdasarkan apa dan seberapa banyak hal yang mereka tahu atau mampu lakukan. Mereka tidak akan merasa puas hingga merasa bahwa mereka mengetahui semua hal. Untuk melakukannya, the expert selalu mencari informasi baru yang akhirnya membuatnya melupakan tugas yang harus mereka kerjakan.

2. The perfectionist

Orang-orang yang selalu ingin menjadi sempurna sering mengalami kecemasan, rasa ragu, dan gelisah yang tinggi, terutama ketika mereka gagal untuk mencapai targetnya yang terlalu tinggi.

Untuk tipe ini, kesuksesan jarang membuat mereka puas karena mereka percaya bahwa hasil tersebut masih bisa ditingkatkan. Memang tipe perfeksionis selalu ingin menjadi lebih baik, tetapi ini bukanlah hal yang baik. Merayakan sebuah pencapaian adalah hal yang penting untuk meningkatkan rasa percaya diri seseorang.

3. The superhero

Tipe superhero seringkali adalah orang yang mampu melakukan banyak hal. Ini disebabkan karena mereka selalu mendorong dirinya dengan keras. Superhero selalu berusaha untuk bekerja lebih keras daripada orang-orang di sekitarnya.

Namun ini hanyalah cara untuk menutupi kegelisahannya. Kerja yang terlalu keras dan sifat ambisius tidak hanya akan membahayakan kesehatan mental, tetapi juga mengancam hubungan dengan rekan kerja.

4. The natural genius

Tipe ini adalah orang-orang yang mampu menguasai kemampuan baru dengan mudah dan cepat. Mereka menilai kompetensi berdasarkan kecepatan dan minimnya usaha yang dilakukan.

Jika para jenius ini membutuhkan waktu lama untuk menguasai suatu hal, mereka akan merasa malu. Seperti para perfeksionis, tipe ini menetapkan standar yang terlalu tinggi untuk dirinya sendiri.

5. The soloist

Seperti namanya, tipe ini sering dikenal sebagai orang dengan rasa individualis yang tinggi. Mereka lebih senang bekerja sendiri dibandingkan dengan melakukan proyek kelompok.

The soloist percaya bahwa meminta bantuan kepada orang lain hanya akan menunjukkan kelemahan mereka. Ini karena mereka ingin membuktikan bahwa dirinya mampu tanpa campur tangan orang lain.

Semua orang bisa mengidap sindrom ini, tapi ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risikonya

Faktor pertama adalah tantangan baru. Kesempatan seperti pekerjaan baru atau promosi untuk jabatan yang lebih tinggi bisa memicu tumbuhnya impostor syndrome. Ini karena mereka dihadapkan dengan ekspektasi yang semakin tinggi sehingga membuatnya merasa harus menjadi lebih baik lagi.

Tumbuh dengan saudara berbakat bisa memicu sindrom ini. Ketika melihat saudara yang dianggap lebih baik, seseorang akan merasa selalu tidak cukup.

Faktor ketiga adalah dilabeli sebagai orang pintar. Seseorang yang dilabeli akan merasa bahwa ia harus mencapai ekspektasi tertentu. Hal ini akan menyebabkan mereka merasa harus menjadi lebih baik daripada orang lain.

Apakah kamu menemukan karaktermu dalam tipe-tipe di atas? Jika iya, coba renungkan lagi semua pencapaianmu selama ini. Kamu sudah berusaha keras untuk mendapatkannya, jadi jangan lupa untuk berterima kasih pada dirimu yang hebat itu!

Comments are closed.