UMP 2021 Dirilis, Sudah Cukup Belum Sih untuk Pengeluaran Bulanan?

UMP 2021 Dirilis, Sudah Cukup Belum Sih untuk Pengeluaran Bulanan?

UMP 2021 Dirilis, Sudah Cukup Belum Sih untuk Pengeluaran Bulanan?

UMP 2021 Dirilis, Sudah Cukup Belum Sih untuk Pengeluaran Bulanan? – Besaran Upah Minimum Provinsi (UMP) tahun 2021 telah resmi terumumkan pada 1 November 2020, dan tercatat bahwa ada lima provinsi yang memastikan kenaikan UMP pada 2021 yakni: Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, DKI Jakarta dan Jogjakarta. Tepat pada 2 November 2020, Badan Pusat Statistik (BPS) pun merilis Ringkasan Eksekutif Pengeluaran dan Konsumsi Penduduk Indonesia, berdasarkan hasil Survei Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2020.

Menganalisis dan membandingkan kedua data tersebut, menemukan fakta bahwa rasio nasional Pengeluaran Rata-rata Per Kapita Berbanding rata-rata UMP 2021 pada Indonesia adalah 48,6 persen. Tentunya, tiap Provinsi memiliki rasionya masing-masing. Besar kecilnya rasio bergantung pada besaran UMP dan besaran pengeluaran rata-rata per kapita.

1. 10 provinsi yang rasio pengeluarannya pada atas 50 persen

Berdasarkan riset Lifepal, Aulia mengatakan terdapat 10 provinsi pada Indonesia yang penduduknya memiliki rasio pengeluaran per kapita rata-rata berbanding UMP 2021 pada atas 50 persen. Yakni: Yogyakarta, Jawa Barat, Banten, Bali, Kepulauan Riau, Kalimantan Timur, Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Kalimantan Utara, dan Bengkulu.

“Pengeluaran dengan rasio 50 persen dapat berkatakan besar karena nilai pengeluaran rata-rata per kapita pekerja pada provinsi tersebut melebihi setengah dari UMP provinsi tersebut,” tulis Lifepal yang terlansir pada http://162.241.119.31/.

Sementara itu, rasio pengeluaran rata-rata pada 23 provinsi lainnya yang bawah 50 persen UMP provinsinya. Yogyakarta menjadi provinsi dengan nilai rasio pengeluaran rata-rata per kapita terbesar, sedangkan Sulawesi Selatan menjadi provinsi dengan rasio pengeluaran terkecil.

2. Malangnya nasib Yogyakarta dan Jawa Barat

Pemprov Yogyakarta secara resmi menaikkan UMP sebesar 3,54 persen dari tahun lalu menjadi Rp1.765.000 pada tahun 2021 mendatang. Akan tetapi Aulia mengatakan bahwa Yogyakarta tetap menjadi provinsi dengan UMP terkecil. Sementara itu pengeluaran rata-rata per kapita pada provinsi tersebut untuk makanan dan nonmakanan mencapai Rp1.411.972.

Meski Yogyakarta bukanlah provinsi dengan pengeluaran rata-rata perkapita terbesar, namun pengeluaran warga Yogyakarta tetap menyatakan besar. Lewat perbandingan pengeluaran rata-rata dan upah minimum rata-rata tersebut, ketahui bahwa pengeluaran rata-rata per kapita Yogyakarta adalah 80 persen dari UMP.

Artinya, seorang warga Yogyakarta yang memperoleh gaji setara UMP dan pengeluaran per bulannya sebesar Rp1,4 juta, hanya memiliki sisa uang sangat sedikit, yaitu 26 persen dari total penghasilannya,” ujar Aulia.

Hampir senasib seperti Yogyakarta, Jawa Barat yang tidak mengalami kenaikan UMP termasuk provinsi dengan besaran UMP terendah keempat. Dengan UMP sebesar Rp1.868.777, pengeluaran rata-rata sebulan pada provinsi tersebut mencapai Rp1.324.960 atau 70,9 persen dari UMP.

3. Warga Jakarta masih bisa menabung

Untuk Jakarta, dengan perhitungan UMP sebesar Rp4.276.349 dan jumlah pengeluaran rata-rata per kapita sebesar Rp2.257.991 pada Maret 2020, maka nilai Rasio Pengeluaran Rata-rata Per Kapita Berbanding UMP 2021 Jakarta adalah 52,8 persen.

“Meski pada teratas 50 persen, namun besaran ini masih terbilang wajar,” kata Aulia.

Aulia juga mencatat, apabila seorang warga Jakarta memiliki penghasilan per bulan setara UMP dan pengeluaran konsumsi bulanan rutin Rp2,2 juta maka masih ada sisa dana sebesar 47 persen dari total penghasilan bulanan untuk berbagai keperluan lainnya.

4. Warga Sulawesi Selatan paling aman

Dengan besaran UMP Rp3.165.876 dan pengeluaran bulanan rata-rata Rp1.057.864, rasio pengeluaran warga Sulsel adalah 36,6 persen dari pendapatan bulanan.

Selain Sulsel, terdapat tiga provinsi lain yang menyatakan memiliki nilai Rasio . Pengeluaran Rata-rata Per Kapita Berbanding UMP 2021 pada bawah 35 persen. Mereka adalah, Sumatera Selatan (33,59 persen), Aceh (34,13 persen), dan Sulawesi Barat (34,76 persen).

“Semakin kecil pengeluaran yang tertujukan untuk konsumsi, maka makin besar pula potensi surplus arus kas bersih yang mendapat setiap bulan. Artinya, semakin besar pula potensi kita untuk bisa menabung atau berinvestasi. Untuk tujuan jangka pendek, menengah, dan panjang,” kata Aulia memaparkan.

Comments are closed.